Mengungkap Gagasan Surat “Al-Muzzammil” (bagian pertama)

1. Al-Muzzammil sebuah kisah

Al-Qur’an sebagai kitab bernilai sastra tinggi, sehingga sangat layak dikaji melalui teori sastra.

Dalam tulisan ini kita menganggap surat Al-Muzzammil sebagai sebuah kisah, dengan catatan kisah dalam surat ini bukan sebuah kisah khayalan (fiksi), tapi kisah yang mengungkap kebenaran sejarah masa lampau, yang mencakup masa Fir’aun dan Nabi Muhammad SAW.

Namun, selain mengungkap kenyataan masa lampau, Al Muzzammil juga ‘menyerempet’ kenyataan sekarang, dan membayangkan sesuatu yang bisa terjadi di masa yang akan datang, yaitu berupa gambaran keadaan yang baik (ideal world) bagi yang mengikuti petunjuk Allah, dan gambaran keadaan yang buruk (worst-case scenario) bagi yang menolaknya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa Al-Muzzammil menempati peran sangat penting (central), karena memuat penjelasan ringkas namun padat tentang kaitan antara kegiatan mengkaji Al-Qur’an dan “revolusi sosial budaya” yang bisa timbul sebagai dampaknya. Karena itu, surat ini layak disebut mewakili gagasan ini al-Qur’an itu sendiri, yang memang diturunkan untuk mengangkat manusia dari keterpurukan akibat kesalahan memilih ajaran (konsep) hidup.

1.1 Gaya monolog

Penyampaiannya dalam bentuk ‘kisah’ dengan gaya monolog (bercerita seperti dalang) adalah bentuk seni sastra tersendiri (unik), yang belakangan ditiru banyak penulis novel maupun cerpen. Dalam gaya ‘berkisah’ seperti ini, jarak antara penutur dengan pendengar dan atau pembaca jadi terasa begitu dekat, karena dijadikan lawan bicara, yaitu disapa dengan anta (anda; kamu) atau kadang antum (kalian). Uniknya, Sang Pencerita kadang menempatkan diri sebagai orang pertama (Aku, Kami) kadang sebagai orang ketiga (Dia).

Dengan gaya bertutur seperti itu, terasa seolah-olah penutur ada di sisi lawan bicara, lalu mengajaknya berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, melintasi jarak dan menerobos lapisan-lapisan waktu, menyaksikan berbagai peristiwa manusia dan alam semesta, sambil terus meluncurkan ‘obrolan’ yang memperkaya wawasan, mengungkapkan rahasia dan menyentuh kesadaran. Di situlah kita menemukan makna hakiki dari sebutan Allah sebagai rabb (pembimbing).

Selain itu, berbagai kalimat (ayat) yang menyebut berbagai hal dengan lancar, lincah, dan dengan pilihan kata (diksi) yang jitu, segera menyadarkan kita betapa Sang Penutur ini memang Mahatahu dan Mahapandai pula beroleh seni sastra. Di sisi ini kita menangkap sebagian arti dari ‘julukan’ Allah sebagai latif(un) khabir(un).

1.2. Persamaan bunyi

Kepiawaian Allah dalam seni sastra juga tampak jelas melalui persamaan bunyi (sajak) pada setiap akhir ayat Al-Qur’an, yang terus menerus (konsisten) muncul dengan wajar dan jitu, tak ada kesan dipaksakan. Ciri ini jelas memastikan gaya bahasa Al-Qur’an yang puitis. Ciri ini pula yang sempat menggoda kritikus sastra Indonesia, HB Yassin, untuk membuat terjemahan Al-Qur’an yang puitis. Sayangnya ia sama sekali tidak berhasil.

2. Unsur-unsur kisah

Para ahli sastra mengurai suatu kisah menjadi unsur-unsur (1) tema, (2) alur, (3) tokoh, (4) lambang, dan (5) pesan.

Dalam konteks pengkajian Al-Qur’an, bisakah kita menerima teori ini ? Jawabannya tentu sangat tergantung pada kenyataan apakah teori ini bisa membantu kita untuk memahami Al-Qur’an atau tidak.

Satu hal yang pasti, walau hasil studi ini nanti mengundang perdebatan, ‘pembedahan’ surat Al-Muzzammil dengan teori penguraian kisah itu telah dilakukan dan telah menghasilkan tulisan ini.

3. Tema

Tema ( theme ) adalah gagasan utama ( main idea ) atau pokok bahasan ( subject ) dalam sebuah bukuk, puisi, film, dan sebagainya. (Longman Language Activator, second impression, 1994 )

Sebuah kisah biasanya mengandung dua jenis tema, yaitu tema besar yang merupakan gagasan utama atau ide dasarnya, dan tema-tema kecil, yang merupakan pendukung atau penguat bagi tema besar dan penegas keberadaan (eksistensi) para tokohnya.

Tema besar adalah ibarat ‘gerobak’ yang mengangkut sejumlah tema kecil; atau seperti ‘benang merah’ yang merangkai tema-tema kecil itu menjadi sedemikian rupa. Dalam konteks (hubungan; kaitan) inilah kita memahami istilah “lepas konteks” yaitu terlepasnya satu atau beberapa tema kecil dari ikatan tema besarnya.

Di luar cakupan sebuah tema besar, tema-tema kecil memang bersifat seperti barang tak bertuan, bisa diambil oleh siapa saja. Dengan kata lain, tema-tema kecil bisa dimasukkan ke dalam satu atau banyak tema besar dalam saat yang bersamaan, seperti sejenis kancing yang bisa digunakan untuk berbagai bentuk pakaian. Karena itulah, dalam Al-Qur’an pun sering kali kita temukan kasus-kasus atau fragmen-fragmen (pecahan, penggalan kisah = tema-tema kecil) tentang Nabi Adam, misalnya, masuk kedalam tema besar dalam surat Al-Baqarah, Ali ‘Imran, Al-Ma’idah, Al-Isra’, Maryam, Thaha, dan Yasin. Di sini, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memahami sebuah tema kecil dalam ikatan tema besarnya, sehingga bila kita mengutipnya, kutipan itu tidak menjadi “lepas konteks”.

Apa salahnya kalau kita mengutip lepas konteks ? Perhatikan, misalnya, apa yang sering dilakukan orang pada surat Al-Baqarah ayat 256:

لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ

قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ

يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ

الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Bagian yang sering dikutip orang adalah kata-kata la ikraha fi-ddin (i ), yang mereka artikan “tak ada paksaan dalam agama“, dengan penjelasan (tafsir) bahwa manusia tidak dipaksa untuk memeluk agama Islam, dan karena itu orang Islam juga tidak boleh memaksa orang lain untuk masuk Islam. Padahal, bila diperhatikan konteksnya, ayat ini mengandung sindiran yang sangat tajam bagi siapapun yang mengabaikan kebenaran Dinul-Islam, yang di situ disebut ar-rusydu (luurus; benar), dan terus ngotot (kukuh) membela al-ghayyu (bengkok; salah), padahal perbedaan keduanya sudah dijelaskan segamblang-gamblangnya dalam ayat-ayat sebelumnya. (ingat nomor ayatnya: 256).

Hal yang sama juga sering dilakukan pada sebuah hadits Al-Bukhari, yang hanya dipenggal sebagian yaitu tentang niat ( al-a’malu bi-niyyati ) dan dikaitkan dengan segala macam hal niat, sehingga kadang tidak ‘nyambung’. Padahal, hadits ini bicara tentang tiga motivasi hijrah (pada masa itu), yang bila tafsirnya diperluas maka hadits ini menegaskan klasifikasi kecenderungan manusia secara umum, yaitu untuk hidup berdasarkan ajaran Allah dengan pola RasulNya, atau hanya memburu dunia (materi), atau mengumbar nafsu birahi.

Lebih jauh, bila dikaitkan dengan Yahudi, kebiasaan main kutip secara lepas konteks itu, secara lambat atau cepat, akan membuat kitab Allah berubah wujud menjadi timbunan kertas (kitab-kitab) yang berserakan–(Surat Al-An’am ayat 91)–yang fungsinya tidak lain kecuali menimbulkan kekacauan berpikir, sehingga lepas dari kendali nilai ilmiah, dan akhirnya kaburlah batas antara sunnah (jalan hidup) rasul dan sunnah setan!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s