4. Alur
Setiap kisah mempunyai alur atau “jalan cerita”, dan yang disebut jalan cerita ini adalah hubungan satu peristiwa dengan peristiwa-peristiwa yang lain dalam keseluruhan cerita, yang berlangsung dalam waktu-waktu tertentu.
Peristiwa-peristiwa itu berhubungan satu sama lain, seperti mata rantai, dalam jalinan hubungan sebab-akibat secara langsung maupun tidak langsung- dalam kaitan-kaitan sistematis maupun logis, sampai cerita berakhir.
Dalam surat Al-Muzzammil, alurnya bisa kita telusuri mulai dari tokoh si Muzzammil sendiri. Peristiwa pertama, dia disuruh bangun malam untuk mengkaji Al-Qur’an. Peristiwa kedua, dia harus mengatur waktu belajarnya, apakah setengah malam, atau kurang dari setengah, atau lebih dari setengah (ayat 1-4 dan 20).
Ingat, satu peristiwa punya hubungan sebab-akibat dengan peristiwa-peristiwa yang lain. Peristiwa bangun malam, misalnya, punya hubungan sebab-akibat dengan keadaan malam itu sendiri. Sebab bangun malam untuk mengkaji Al-Qur’an, maka kita bertemu dengan keadaan malam yang mendukung kegiatan belajar Al-Qur’an. Akibatnya (hasilnya), Al-Qur’an pun menjadi lebih mudah masuk ke dalam otak. Semakin sering hal itu dilakukan, semakin banyak isi Al-Qur’an yang diketahui.
Sebab mengetahui banyak isi Al-Qur’an, maka perlahan tapi pasti (akibatnya) pandangan dan sikap hidup kita pun berubah, semakin lama semakin ingin menyesuaikan diri dengan Al-Qur’an.
Selanjutnya, perubahan kita adalah suatu sebab yang pasti menimbulkan reaksi orang lain sebagai akibatnya! Dan reaksi orang lain adalah satu sebab yang pasti berakibat pula kepada kita. Begitu seterusnya, peristiwa-peristiwa saling berjalin dalam hubungan sebab-akibat. Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah hubungan sebab-akibat antara Al-Qur’an dan orang yang mempelajarinya. Al-Qur’an adalah suatu sebab yang bisa mendatangkan akibat-akibat berantai bagi orang yang mempelajarinya, juga bagi lingkungan orang itu sendiri. Dan akibat-akibat itu bisa muncul dalam bentuk reaksi-reaksi lingkungan yang tidak diharapkan, sehingga menimbulkan bentrokan-bentrokan kecil maupun besar. Hal inilah yang amat sangat perlu diperhatikan oleh para pengkaji Al-Qur’an, supaya kegiatan mengaji itu tidak menjadi sia-sia, atau malah mendatangkan bencana bagi diri sendiri maupun lingkungan. ‘Bencana’ itu, bila kita mengacu pada surat Al-Muddattsir, misalnya, karena pengkajian Al-Qur’an itu bisa menyebabkan kita jadi “banyak berkhayal” (تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ ). Tegasnya, konsep-konsep revolusioner Al-Qur’an bisa kita campur-aduk dengan pemikiran-pemikiran subyektif, sehingga yang muncul dominan pada akhirnya adalah pemikiran-pemikiran yang subyektif itu.
Lantas, apa gerangan yang bisa mencegah dominasi subyektif itu? Sunnah Rasul! Sunnah Rasul adalah pola, prosedur, taktik dan strategi yang tidak boleh diabaikan, supaya studi Al-Qur’an tidak menimbulkan bencana bagi diri sendiri dan lingkungan. Melalui sunnah rasul, kita (seharusnya) dapat mengetahui tahapan-tahapan yang harus dilalui, dan target-target yang tersusun berdasarkan skala prioritas.
5. Tokoh
Tokoh dalam surat ini bisa diurai secara berturut, mulai dari Allah sebagai pemilik gagasan, malaikat (Jibril) sebagai penyampai wahyu, lalu Nabi Muhammad sebagai penerima wahyu yang sekaligus berperan sebagai uswah hasanah.
Tokoh berikutnya adalah mereka yang diisyaratkan melalui kata ganti antum (ayat 15 dan 20); yakni para pengikut Nabi Muhammad.
Selain mereka, ada Musa dan Fir’aun yang keduanya mewakili tokoh-tokoh masa lampau; dengan catatan bahwa Musa mewakili tokoh utama yang baik, dan Fir’aun mewakili tokoh utama yang jahat.
6. Perlambangan
Perlambangan atau simbolisme adalah salah satu unsur penting dalam karya sastra, terutama bila berbentuk cerita. Lambang-lambang sengaja dibuat atau dimunculkan sebagai sarana pengangkut makna-makna atau pesan-pesan tertentu. Dengan kata lain, di balik lambang-lambang itulah biasanya para pembuat cerita menyimpan “pesan-pesan” mereka.
Lambang-lambang dalam sebuah kisah bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada kalanya berupa benda-benda atau kata-kata tertentu yang bermakna kiasan, sebagai bentuk-bentuk tasybih (ungkapan; perumpamaan) yang kadang mempertajam, menghaluskan, atau bahkan menyamarkan gagasan.
Lambang-lambang itu biasanya hanya bisa terbaca oleh para pembaca yang cerdas dan terlatih. Dalam kajian sastra pembaca demikian itu biasa tampil sebagai kritikus atau pengamat sastra. Dalam konteks Al-Qur’an, yang tergolong demikian itu tentu (seharusnya!) adalah para ahli tafsir. Sayangnya, mereka yang dikenal sebagai ahli tafsir justru kebanyakan tidak peka terhadap simbolisme Al-qur’an, sehingga banyak pesan Al-Qur’an akhirnya tinggal lestari dalam pelukan kegelapan. Terkubur di lubang ketidaktahuan.
6.1. Al-Muzzammil, lambang kebodohan
Ditinjau dari teori perlambangan ini, Al-Muzzammil itu sendiri (seperti sudah disinggung di atas) adalah sebuah lambang, yaitu lambang dari seseorang dan atau satu umat (bangsa) yang terlena dalam kebodohan. Mereka hidup dalam berbagai bentuk kesulitan tapi tidak mau berontak, malah membenamkan diri dalam selimut. Hal itu mereka lakukan mungkin karena memang mereka tak tahu harus berbuat apa. Karena itulah Allah mengajarkan apa yang tak terjangkau oleh pemikiran mereka ( ‘allamal insana ma lam ya’lam; Al-’Alaq ayat 5), yaitu Al-Qur’an sebagai bekal untuk mengubah nasib.
Coba perhatikan satu hal ini! Mengapa dalam surat ini Allah menyebutkan tokoh Musa? Satu segi, hal itu tentu dimaksudkan agar para pengikut Nabi Muhammad mengingat nasib bangsa Yahudi (Isra’il) ketika mereka masih menjadi budak di Mesir. Bila tidak karena Allah mengutus Nabi Musa dengan membawa kitab Taurat, niscaya mereka menjadi budak selama-lamanya!
Jadi, mereka yang disebut sebagai Al-Muzzammil di masa Nabi Muhammad diingatkan untuk bercermin pada bangsa Yahudi ketika menjadi budak. Mereka ditolong Allah dengan mengutus seorang rasul yang membawa kita (Taurat)! Begitu juga bangsa Arab, dan kita semua yang mengaku umat Nabi Muhammad. Kita ditolong Allah dengan mengutus seorang rasul yang membawa kitab (Al-Qur’an). Tapi pertolongan Allah itu akan menjadi sia-sia jika kitab itu tidak dipelajari dan diamalkan sesuai dengan petunjukNya.
6.2. Belenggu dan makanan berduri
Ayat 12-13 menyebut tentang “belenggu” (borgol) dan “makanan berduri (yang menyumbat kerongkongan)” yang disediakan Allah bagi para penguasa fasilitas kehidupan yang kafir. Kita selalu membayangkan bahwa itu semua adalah siksaan (azab) yang akan mereka terima di alam akhirat nanti. Padahal, bila kita ingat sunnatullah berupa hukum sebab-akibat yang disebutkan di atas, maka jelaslah bahwa setiap pilihan hidup pasti tidak bisa dilepaskan dari akibatnya. Dan pilihan untuk menjadi kafir adalah sama dengan membelenggu diri dengan segala akibat kekafiran itu. Dengan kata lain, bila mereka sadar, pilihan untuk menjadi kafir adalah ibarat memakan makanan berduri, yang begitu dimakan lantas mengganjal di tenggorokan, tak bisa ditelan dan tak bisa dikeluarkan. Dalam simbolisme bangsa Indonesia, buah berduri ini adalah “buah si malakama”, yang bila dimakan matilah ayah, dan bila tidak dimakan matilah bunda.
Itulah gambaran penderitaan mereka. Gambaran kehidupan yang serba salah. Dengan kata lain, kekafiran itu menjebak manusia dalam keterlanjuran yang menyakitkan. Seperti orang yang terjebak dalam perjudian; berhenti salah (karena sudah kalah banyak dan ingin menebus kekalahan itu, melanjutkan juga salah (karena kemenangan yang diharapkan hanyalah spekulasi).