Taurus16’s Weblog

Mengungkap Gagasan Surat “Al-Muzzammil” (bagian keempat)

Mei 14, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

6.3 Bumi dan Gunung

Bumi dan gunung-gunung dalam ayat 14 juga bukan bumi dan gunung-gunung dalam arti harfiah. Karena bila berarti harfiah dan dianggap sebagai gambaran situasi dan kondisi ketika “dunia kiamat”, maka hal itu baru akan terjadi entah kapan. Hal itu, misalnya, tidak bisa dikaitkan dengan orang-orang yang hidup di zaman Musa dan juga Muhammad, bahkan juga dengan kita sekarang. Dalam pemikiran (ilmiah?) kita semua, kehancuran dunia adalah sesuatu yang mungkin baru terjadi entah beberapa ratus atau ribu tahun kemudian! Jadi, bila kabar tentang kehancuran alam itu dijadikan alat untuk ‘menakut-nakuti’, maka hal itu sama sekali tidak membuat kita takut.

Memang bukan itu yang dimaksud dalam ayat 14. Ayat ini tidak bicara tentang peristiwa alam benda, tapi peristiwa sosial-budaya. Hal yang dimaksud di sini adalah kejadian-kejadian yang berkaitan langsung dengan pilihan untuk menjadi kafir tersebut.

Jelasnya, kebanyakan manusia menolak ajaran Allah karena tidak mau meninggalkan ajaran lain, yang sudah terlanjur menjadi sebuah sistem, dan di situ mereka sudah terlanjur hidup enak sebagai “gunung-gunung” alias para pemuka masyarakat, dalam sistem sosial-piramid.

Bila gunung-gunung adalah lambang (perumpamaan) dari para pemimpin, maka tentu saja bumi adalah lambang bagi para bawahan serta rakyat jelata.

sistem zhulumat adalah sistem yang selalu menguntungkan mereka “yang di atas” (gunung; para penguasa; pemimpin) dan menyengsarakan “yang di bawah” (bumi; rakyat). Karena itu, pada saat tertentu, terjadilah “krisis” yang menyebabkan kegoncangan, dan kedua pihak pun lantas saling tuding. Menariknya, kedua hal itu (bergoncang dan saling tuding) dalam ayat 14 ini diwakili oleh satu kata: tarjufu.

Bila sudah terjadi “krisis”, peristiwa demi peristiwa akan terjadi secara susul menyusul, beruntun, dalam kecepatan waktu yang sulit diramalkan. Ketika terjadi “krisis moneter” di negeri kita (tahun 1997), misalnya, dalam waktu singkat krisis moneter itu sudah berkembang menjadi “krisis multi dimensi”. Pada saat itu -konon- Soeharto pun tidak akan meletakkan jabatannya bila saja Nurcholis Madjid tidak mengingatkan bahwa “peristiwa-peristiwa bergerak dalam hitungan detik”. Di sini kita melihat cerdiknya Soeharto dalam memahami informasi, sehingga dia bisa memilih jalan yang “aman” untuk dirinya. Sayangnya, dia tidak cukup cerdik untuk memahami informasi Allah (Al-Qur’an).

6.4. Bayi menjadi tua renta

Ayat 15-16 menegaskan kerasulan Muhammad sebagai perulangan dari kerasulan Musa. Kerajaan Fir’aun hancur karena menentang risalah Musa.

Ayat 17 muncul dengan perumpamaan yang sangat indah tentang kepastian hancurnya sistem yang dibangun Fir’aun dan para kroninya. Sistem tersebut digambarkan Allah seperti halnya bayi yang pada akhirnya harus menjadi manusia tua renta (dan akhirnya tentu mati).

Bayi di sini adalah perumpamaan yang diharapkan mengingatkan kita pada proses sejarah peradaban, yang dalam tinjauan biologis berawal dari benih, yang kemudian lahir menjadi bayi,, kemudian terus tumbuh dan berkembang melalui tahap demi tahap, sampai akhirnya menemui ajalnya ( وَأَجَلٌ مُسَمًّى ).

Benih sebuah sistem adalah konsep, yang kemudian lahir menjadi sebuah komunitas kecil, menjadi organisasi politik, dan seterusnya menjelma menjadi sebuah sistem kekuasaan, yang di Indonesia dikenal dengan sebutan “orde” (prde lama, orde baru, orde reformasi).

Sehebat apapun sebuah bangunan kekuasaan, pada akhirnya pasti menemui ajalnya juga. Tak ada yang kekal, kecuali Allah dengan segala kekuasaannya.

Perhatikan baik-baik awal ayat 17 yang sangat menarik ini: “Bagaimanakah kalian bisa menyelamatkan diri, bila kalian mengingkari datangnya pergiliran waktu ( yaum: sejarah ), yang mengubah (perlahan tapi pasti) bayi menjadi tua renta (menjadikan anak-anak beruban)?”

Pertanyaan itu tentu ditujukan kepada para pengkaji Al-Qur’an. Silahkan saja kalian berleha-leha, tapi sunnatullah bekerja tanpa jeda. Bila kalian tidak bersungguh-sungguh mengkaji dan mengikuti ajaran Allah, rasakan akibatnya. Bila sistem yang sudah tua renta itu ambruk, maka kalian pasti tertimbun di bawah reruntuhannya! Tak ada beda antara nasib si tukang khayal (“pelamun ulung”) dengan para pendukung Fir’aunisme!

6.5. Janji Allah pasti terwujud

Ayat 18 mengajukan as-sama’ (yang selalu dipahami sebagai langit) sebagai lambang sistem kekuasaan politik. Ungkapan ini seharusnya mengingatkan kita pada istilah “langit tujuh lapis” yang melambangkan tingkatan (hierarki) kekuasaan dalam setiap sistem politik. Di sana setiap kelompok penguasa menempati kelas demi kelas secara berlapis-lapis dari bawah ke atas. Semakin ke atas, semakin elit, eksklusif, terhormat, dan berkuasa.

Tapi lapisan (yang tertata seperti sebuah piramida) itu bukanlah sebuah bangunan permanen yang kokoh. Banguna hakiki (fisik) bisa tua, rapuh dan akhirnya runtuh. Begitu juga halnya sistem politik, yang bisa ambruk karena akhirnya terjadi kebobrokan di dalamnya.

Itulah janji Allah, itulah sunnatullah, yang pasti terwujud, baik pada alam benda maupun pada kehidupan sosial-budaya manusia.

7. Pesan

Pesan dalam karya sastra biasanya tidak disampaikan secara verbal (dalam bentuk perkataan langsung), tapi lebih sering dalam bentuk sindiran, perumpamaan, dan lambang-lambang. Sering dikatakan, karya sastra yang baik tidak bersifat menggurui, tapi merangsang pembacanya berpikir. Kita bisa belajar banyak tentang hal ini melalui Al-Qur’an.

Pesan dalam Al-Qur’an kadang muncul berupa perintah dan larangan secara langsung, mengingatkan bahwa manusia tidak selalu harus bebas menentukan pilihan sendiri. Pesan-pesan tak langsung sering diberikan untuk mengajak manusia menyadari bahwa mematuhi ajaran Allah adalah sebuah kewajaran belaka. Sesuatu yang seharusnya dianggap sebagai hal yang alami.

Tidak ada pilihan yang benar kecuali mematuhi Allah. Itulah pesan inti Al-Muzzammil, dan itulah pesan inti Al-Qur’an. Pilihan-pilihan lain memang terhidang juga, tapi dengan resiko-resiko yang menyakitkan.

Catatan:

Nasakah ini disalin dari tulisan sdr. A. Husein di majalah/tabloid mini QTs ( Qaulan Tsaqilan ) edisi Maret 2008 yang beredar eksklusif.

Kategori: Kajian Islami
Ditandai:

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.