<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Taurus16's Weblog</title>
	<atom:link href="http://taurus16.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://taurus16.wordpress.com</link>
	<description>Lahan penuangan pikiran/ide/gagasan tentang ke-Islaman</description>
	<lastBuildDate>Sat, 18 Apr 2009 13:21:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='taurus16.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Taurus16's Weblog</title>
		<link>http://taurus16.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://taurus16.wordpress.com/osd.xml" title="Taurus16&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://taurus16.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Surat Al-Fatihah</title>
		<link>http://taurus16.wordpress.com/2009/04/18/surat-al-fatihah/</link>
		<comments>http://taurus16.wordpress.com/2009/04/18/surat-al-fatihah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 13:21:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taurus16</dc:creator>
				<category><![CDATA[Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Terjemahan Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taurus16.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[SURAT AL-FAATIHAH Surat Al Fatihah, 7 ayat Makkiyyah ڊسم الله الر حمن الر حيم 1. Mudah-mudahan-1) saya-2) adalah hidup menurut Ilmu Allah-3), yang telah mengajar Al Qur’an -4) (Nur menurut sunnah rasul-5) lawan Dzulumat menurut sunnah syayatin) yang memberi kepastian &#8230; <a href="http://taurus16.wordpress.com/2009/04/18/surat-al-fatihah/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=11&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">SURAT AL-FAATIHAH</p>
<p style="text-align:center;">Surat  Al Fatihah, 7 ayat Makkiyyah</p>
<p style="text-align:left;">ڊسم الله الر حمن الر حيم<br />
1.	Mudah-mudahan-1) saya-2) adalah hidup menurut Ilmu Allah-3), yang telah mengajar Al Qur’an -4) (Nur menurut sunnah rasul-5) lawan Dzulumat menurut sunnah syayatin) yang memberi kepastian menurut pilihaan masing-masing-6).</p>
<p>الحمدلله رب العلمين<br />
2.	…….. -7) menjadi penyanjung hidup-8) menurut Ilmu Allah pembimbing semesta kehidupan.</p>
<p>الرمن الرحيم<br />
3.	…… yang telah mengajar al Qur’an (Nur m.s.R lawan Dzulumat m.s.Sy)yang memberi kepastian menurut pilihan masing-masing.</p>
<p>ملك يٯ م الد ين<br />
4.	……. Yang menguasai jalannya (peredaran) hidup menurut pilihan masing-masing.</p>
<p>اياك نعبد ٯ اياك نستعين<br />
5.	Hanya menurut Anda itulah kami hidup mengabdi dan hanya menurut Anda itu jualah kami menadahkan satu kehidupan saling tolong-10).</p>
<p>اھدنا الصرط المستقيم<br />
6.	(Maka dengan Al Qur’an m.s.R. Anda) pedomanilah kami satu sistim kehidupan tangguh tiada tanding.</p>
<p>صرط الذين انعمت عليھم غير المغضوب عليھم<br />
ولا الضالين<br />
7.	Satu sistim hidup yang Anda telah memantapkan menjadi kehidupan (sunnah) para Anbiya-11) bukan sistim aduk-adukan yang terkutuk -12), juga tidak sistim pendukung dzulumat m.s.Sy.-13).</p>
<p>Catatan kaki:<br />
1.	Ingat bahwa semua bentuk kalimat S. Al Faatihah, lebih-lebih dalam hubungan dengan sholat ialah doa, mengandung arti mudah-mudahan, semoga, kiranya, dsb.<br />
2.	Istilah “saya” (ana, pihak ke-1, adalah perubahan sebagai jawaban dari dan atau terhadap perintah “iqra”  (anta), pihak ke-2 (kitab) …… “dan ingat arti” Qara-a- yaqra-u – qira-atan, qur-anan” ialah baca hingga yang dibaca itu menjadilah pandangan yang membacanya. Isinya adalah Nur dan Dzulumat (qadar).<br />
3.	Istilah “ismun”, jamaknya “asma’un”, berarti nama atau berdasar S. Al Baqarah ayat 31, “wallama Adama (‘ilman) al asma-a”, menjadi alternatipnya disini ialah “ilmu” atau ajaran Allah”.<br />
4.	Hubungkan dengan S. Ar Rahmaan: 2 berarti Al Qur’an satu ilmu.<br />
5.	Istilah “menurut sunnah rasul”, hubungkan dengan hadits: “Inna ashdaqal hadists kitabullah wa khairu huda huda Muhammad ……”, menjadi Al Qur’an ilah penjelmaan kalam Allah  menjadi “menurut sunnah rasul Muhammad saw”, hubungkan juga s. al Baqarah: 257, dsb.<br />
6.	Hubungkan dengan S. Al Fath: 29 : rukhamaa (jamak)- rakhim (mufrad) berarti ilmu sudah menjelma menjadi satu kenyataan hidup dari hasil satu pilihan.<br />
7.	Tanda elip (…) ialah isarat bahwa pokok atau pokok dan keterangan kalimatnya dibuang (madhluf) dibuang sebutannya tetapi tetap dipakai.<br />
8.	Isatilah “Alhamdu” bisa berbentuk masdar dan bisa pula berbentuk kata pelaku (isim fa’il dalam bentuk musabbahaah atau muballahah berdasar alasan sharfiah. Dan berdasar teori kalimat (nahwiyah) dengan tujuan utama ialah kalimat sempurna (kalimatun tamun) maka alternatif “Alhamdu” disini ilah kata pelaku (imbuhan pe- + masdar = sanjung) menjadilah alternatifnya ialah penyanjung. Alternatif masdar akan mengakibatkan kalimat menjadi “gharib” (tidak sempurna maka perhatikan ancaman surat taubah : 32 dan s. Shaff: 8..<br />
9.	Hubungkan dengan S. Al Kaafiruun: 6, “Din” (sama dengan sabil atau shirath), berarti dinul islam satu penataan hidup haq m.s.R. dan atau din batil ialah pilihan dzulumat m.s.Sy.<br />
10.	Hubungkan dengan S. Ruum: 21, dinul islam dinamakan “mawadah dan rahmah”, dan simpulkan dengan S. An Nasr: 1, “Nasrullah wal fathu”, kata hadits “kaljasadi ….”.<br />
11.	Hubungkan dengan S. Al Baqarah: 123, 133 dan 136, S. Al Maidah: 3, dsb.<br />
12.	Hubungkan dengan S. Al Baqarah: 42, 79 dan 85, S. Ali Imran: 71, dsb. S. An Nisa’: 51 menyebut “Jibti” = idealisme dsb.<br />
13.	Hubungkan dengan S. Al Baqarah: 257, “thaghut” ialah pendukung naturalisme ialah penyalahgunaan dzulumat m.s.Sy terbagi kedalam individualisme (liberalisme) dan kolektivisme (komunisme, sosialisme, dsb) dari itu, bagi siapa yang mau melakukan studi Al Qur’an maka perhatikan perintah S. An Nahl: 98 dan 99, “fas ta’idz billlahi minasy syaitannirrajiim”.</p>
<p><em>(bahan dari Ahmad Hs, pemilik dan penerbit QTs)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taurus16.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taurus16.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=11&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taurus16.wordpress.com/2009/04/18/surat-al-fatihah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50b6f0693c472ee75a006110193943f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taurus16</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Gagasan Surat “Al-Muzzammil” (bagian keempat)</title>
		<link>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/14/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-keempat/</link>
		<comments>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/14/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-keempat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 May 2008 10:11:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taurus16</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taurus16.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[6.3 Bumi dan Gunung Bumi dan gunung-gunung dalam ayat 14 juga bukan bumi dan gunung-gunung dalam arti harfiah. Karena bila berarti harfiah dan dianggap sebagai gambaran situasi dan kondisi ketika &#8220;dunia kiamat&#8221;, maka hal itu baru akan terjadi entah kapan. &#8230; <a href="http://taurus16.wordpress.com/2008/05/14/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-keempat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=10&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>6.3 <em>Bumi dan Gunung</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bumi dan gunung-gunung dalam ayat 14 juga bukan bumi dan gunung-gunung dalam arti harfiah. Karena bila berarti harfiah dan dianggap sebagai gambaran situasi dan kondisi ketika &#8220;dunia kiamat&#8221;, maka hal itu baru akan terjadi entah kapan. Hal itu, misalnya, tidak bisa dikaitkan dengan orang-orang yang hidup di zaman Musa dan juga Muhammad, bahkan juga dengan kita sekarang. Dalam pemikiran (ilmiah?) kita semua, kehancuran dunia adalah sesuatu yang mungkin baru terjadi entah beberapa ratus atau ribu tahun kemudian! Jadi, bila kabar tentang kehancuran alam itu dijadikan alat untuk &#8216;menakut-nakuti&#8217;, maka hal itu sama sekali tidak membuat kita takut.<span id="more-10"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Memang bukan itu yang dimaksud dalam ayat 14. Ayat ini tidak bicara tentang peristiwa alam benda, tapi peristiwa sosial-budaya. Hal yang dimaksud di sini adalah kejadian-kejadian yang berkaitan langsung dengan pilihan untuk menjadi kafir tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Jelasnya, kebanyakan manusia menolak ajaran Allah karena tidak mau meninggalkan ajaran lain, yang sudah terlanjur menjadi sebuah sistem, dan di situ mereka sudah terlanjur hidup enak sebagai &#8220;gunung-gunung&#8221; alias para pemuka masyarakat, dalam sistem <em>sosial-piramid</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila gunung-gunung adalah lambang (perumpamaan) dari para pemimpin, maka tentu saja bumi adalah lambang bagi para bawahan serta rakyat jelata.</p>
<p style="text-align:justify;">sistem <em>zhulumat</em> adalah sistem yang selalu menguntungkan mereka &#8220;yang di atas&#8221; (gunung; para penguasa; pemimpin) dan menyengsarakan &#8220;yang di bawah&#8221; (bumi; rakyat). Karena itu, pada saat tertentu, terjadilah &#8220;krisis&#8221; yang menyebabkan kegoncangan, dan kedua pihak pun lantas saling tuding. Menariknya, kedua hal itu (bergoncang dan saling tuding) dalam ayat 14 ini diwakili oleh satu kata: <em>tarjufu</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila sudah terjadi &#8220;krisis&#8221;, peristiwa demi peristiwa akan terjadi secara susul menyusul, beruntun, dalam kecepatan waktu yang sulit diramalkan. Ketika terjadi &#8220;krisis moneter&#8221; di negeri kita (tahun 1997), misalnya, dalam waktu singkat krisis moneter itu sudah berkembang menjadi &#8220;krisis multi dimensi&#8221;. Pada saat itu -konon- Soeharto pun tidak akan meletakkan jabatannya bila saja Nurcholis Madjid tidak mengingatkan bahwa &#8220;peristiwa-peristiwa bergerak dalam hitungan detik&#8221;. Di sini kita melihat cerdiknya Soeharto dalam memahami informasi, sehingga dia bisa memilih jalan yang &#8220;aman&#8221; untuk dirinya. Sayangnya, dia tidak cukup cerdik untuk memahami informasi Allah (Al-Qur&#8217;an).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.4. <em>Bayi menjadi tua renta</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 15-16 menegaskan kerasulan Muhammad sebagai perulangan dari kerasulan Musa. Kerajaan Fir&#8217;aun hancur karena menentang risalah Musa.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 17 muncul dengan perumpamaan yang sangat indah tentang kepastian hancurnya sistem yang dibangun Fir&#8217;aun dan para kroninya. Sistem tersebut digambarkan Allah seperti halnya bayi yang pada akhirnya harus menjadi manusia tua renta (dan akhirnya tentu mati).</p>
<p style="text-align:justify;">Bayi di sini adalah perumpamaan yang diharapkan mengingatkan kita pada proses sejarah peradaban, yang dalam tinjauan biologis berawal dari benih, yang kemudian lahir menjadi bayi,, kemudian terus tumbuh dan berkembang melalui tahap demi tahap, sampai akhirnya menemui ajalnya ( <span style="font-size:14pt;line-height:115%;">وَأَجَلٌ مُسَمًّى</span> ).</p>
<p style="text-align:justify;">Benih sebuah sistem adalah konsep, yang kemudian lahir menjadi sebuah komunitas kecil, menjadi organisasi politik, dan seterusnya menjelma menjadi sebuah sistem kekuasaan, yang di Indonesia dikenal dengan sebutan &#8220;orde&#8221; (prde lama, orde baru, orde reformasi).</p>
<p style="text-align:justify;">Sehebat apapun sebuah bangunan kekuasaan, pada akhirnya pasti menemui ajalnya juga. Tak ada yang kekal, kecuali Allah dengan segala kekuasaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan baik-baik awal ayat 17 yang sangat menarik ini: <em>&#8220;Bagaimanakah kalian bisa menyelamatkan diri, bila kalian mengingkari datangnya pergiliran waktu </em>( <em>yaum</em>: sejarah ), <em>yang mengubah (perlahan tapi pasti) bayi menjadi tua renta</em> (menjadikan anak-anak beruban)?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan itu tentu ditujukan kepada para pengkaji Al-Qur&#8217;an. Silahkan saja kalian berleha-leha, tapi sunnatullah bekerja tanpa jeda. Bila kalian tidak bersungguh-sungguh mengkaji dan mengikuti ajaran Allah, rasakan akibatnya. Bila sistem yang sudah tua renta itu ambruk, maka kalian pasti tertimbun di bawah reruntuhannya! Tak ada beda antara nasib si tukang khayal (&#8220;pelamun ulung&#8221;) dengan para pendukung Fir&#8217;aunisme!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.5. <em>Janji Allah pasti terwujud</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 18 mengajukan <em>as-sama&#8217;</em> (yang selalu dipahami sebagai langit) sebagai lambang sistem kekuasaan politik. Ungkapan ini seharusnya mengingatkan kita pada istilah &#8220;langit tujuh lapis&#8221; yang melambangkan tingkatan (hierarki) kekuasaan dalam setiap sistem politik. Di sana setiap kelompok penguasa menempati kelas demi kelas secara berlapis-lapis dari bawah ke atas. Semakin ke atas, semakin elit, eksklusif, terhormat, dan berkuasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi lapisan (yang tertata seperti sebuah piramida) itu bukanlah sebuah bangunan permanen yang kokoh. Banguna hakiki (fisik) bisa tua, rapuh dan akhirnya runtuh. Begitu juga halnya sistem politik, yang bisa ambruk karena akhirnya terjadi kebobrokan di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah janji Allah, itulah sunnatullah, yang pasti terwujud, baik pada alam benda maupun pada kehidupan sosial-budaya manusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Pesan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pesan dalam karya sastra biasanya tidak disampaikan secara verbal (dalam bentuk perkataan langsung), tapi lebih sering dalam bentuk sindiran, perumpamaan, dan lambang-lambang. Sering dikatakan, karya sastra yang baik tidak bersifat menggurui, tapi merangsang pembacanya berpikir. Kita bisa belajar banyak tentang hal ini melalui Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan dalam Al-Qur&#8217;an kadang muncul berupa perintah dan larangan secara langsung, mengingatkan bahwa manusia tidak selalu harus bebas menentukan pilihan sendiri. Pesan-pesan tak langsung sering diberikan untuk mengajak manusia menyadari bahwa mematuhi ajaran Allah adalah sebuah kewajaran belaka. Sesuatu yang seharusnya dianggap sebagai hal yang alami.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada pilihan yang benar kecuali mematuhi Allah. Itulah pesan inti Al-Muzzammil, dan itulah pesan inti Al-Qur&#8217;an. Pilihan-pilihan lain memang terhidang juga, tapi dengan resiko-resiko yang menyakitkan.</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Nasakah ini disalin dari tulisan sdr. <strong>A. Husein</strong> di majalah/tabloid mini <strong>QTs</strong> (<em> Qaulan Tsaqilan</em> ) edisi Maret 2008 yang beredar eksklusif.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taurus16.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taurus16.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taurus16.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taurus16.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=10&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/14/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-keempat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50b6f0693c472ee75a006110193943f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taurus16</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Gagasan Surat “Al-Muzzammil” (bagian ketiga)</title>
		<link>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/13/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-ketiga/</link>
		<comments>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/13/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-ketiga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 08:27:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taurus16</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taurus16.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[4. Alur Setiap kisah mempunyai alur atau &#8220;jalan cerita&#8221;, dan yang disebut jalan cerita ini adalah hubungan satu peristiwa dengan peristiwa-peristiwa yang lain dalam keseluruhan cerita, yang berlangsung dalam waktu-waktu tertentu. Peristiwa-peristiwa itu berhubungan satu sama lain, seperti mata rantai, &#8230; <a href="http://taurus16.wordpress.com/2008/05/13/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-ketiga/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=9&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>4. Alur</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kisah mempunyai alur atau &#8220;jalan cerita&#8221;, dan yang disebut jalan cerita ini adalah hubungan satu peristiwa dengan peristiwa-peristiwa yang lain dalam keseluruhan cerita, yang berlangsung dalam waktu-waktu tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Peristiwa-peristiwa itu berhubungan satu sama lain, seperti mata rantai, dalam jalinan hubungan sebab-akibat secara langsung maupun tidak langsung- </em>dalam kaitan-kaitan sistematis maupun logis, sampai cerita berakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam surat Al-Muzzammil, alurnya bisa kita telusuri mulai dari tokoh si Muzzammil sendiri. Peristiwa pertama, dia disuruh bangun malam untuk mengkaji Al-Qur&#8217;an. Peristiwa kedua, dia harus mengatur waktu belajarnya, apakah setengah malam, atau kurang dari setengah, atau lebih dari setengah (ayat 1-4 dan 20).</p>
<p style="text-align:justify;">Ingat, satu <em>peristiwa punya hubungan sebab-akibat dengan peristiwa-peristiwa yang lain</em>. Peristiwa bangun malam, misalnya, punya hubungan sebab-akibat dengan keadaan malam itu sendiri. <strong>Sebab</strong> bangun malam untuk mengkaji Al-Qur&#8217;an, maka kita bertemu dengan keadaan malam yang mendukung kegiatan belajar Al-Qur&#8217;an. <strong>Akibat</strong>nya (hasilnya), Al-Qur&#8217;an pun menjadi lebih mudah masuk ke dalam otak. Semakin sering hal itu dilakukan, semakin banyak isi Al-Qur&#8217;an yang diketahui.<span id="more-9"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebab</strong> mengetahui banyak isi Al-Qur&#8217;an, maka perlahan tapi pasti (<strong>akibat</strong>nya) pandangan dan sikap hidup kita pun berubah, semakin lama semakin ingin menyesuaikan diri dengan Al-Qur&#8217;an.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, perubahan kita adalah suatu <strong>sebab</strong> yang pasti menimbulkan reaksi orang lain sebagai <strong>akibat</strong>nya! Dan reaksi orang lain adalah satu <strong>sebab</strong> yang pasti ber<strong>akibat</strong> pula kepada kita. Begitu seterusnya, peristiwa-peristiwa saling berjalin dalam hubungan sebab-akibat. Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah hubungan sebab-akibat antara Al-Qur&#8217;an dan orang yang mempelajarinya. Al-Qur&#8217;an adalah suatu <strong>sebab</strong> yang bisa mendatangkan <strong>akibat-akibat</strong> berantai bagi orang yang mempelajarinya, juga bagi lingkungan orang itu sendiri. Dan akibat-akibat itu bisa muncul dalam bentuk reaksi-reaksi lingkungan yang tidak diharapkan, sehingga menimbulkan bentrokan-bentrokan kecil maupun besar. Hal inilah yang amat sangat perlu diperhatikan oleh para pengkaji Al-Qur&#8217;an, supaya kegiatan mengaji itu tidak menjadi sia-sia, atau malah mendatangkan bencana bagi diri sendiri maupun lingkungan. &#8216;Bencana&#8217; itu, bila kita mengacu pada surat Al-Muddattsir, misalnya, karena pengkajian Al-Qur&#8217;an itu bisa menyebabkan kita jadi &#8220;banyak berkhayal&#8221; (<span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;color:black;">تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ</span> ). Tegasnya, konsep-konsep revolusioner Al-Qur&#8217;an bisa kita campur-aduk dengan pemikiran-pemikiran subyektif, sehingga yang muncul dominan pada akhirnya adalah pemikiran-pemikiran yang subyektif itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas, apa gerangan yang bisa mencegah dominasi subyektif itu? Sunnah Rasul! Sunnah Rasul adalah pola, prosedur, taktik dan strategi yang tidak boleh diabaikan, supaya studi Al-Qur&#8217;an tidak menimbulkan bencana bagi diri sendiri dan lingkungan. Melalui sunnah rasul, kita (seharusnya) dapat mengetahui tahapan-tahapan yang harus dilalui, dan target-target yang tersusun berdasarkan skala prioritas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Tokoh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh dalam surat ini bisa diurai secara berturut, mulai dari Allah sebagai pemilik gagasan, malaikat (Jibril) sebagai penyampai wahyu, lalu Nabi Muhammad sebagai penerima wahyu yang sekaligus berperan sebagai <em>uswah hasanah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tokoh berikutnya adalah mereka yang diisyaratkan melalui kata ganti <em>antum</em> (ayat 15 dan 20); yakni para pengikut Nabi Muhammad.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain mereka, ada Musa dan Fir&#8217;aun yang keduanya mewakili tokoh-tokoh masa lampau; dengan catatan bahwa Musa mewakili tokoh utama yang baik, dan Fir&#8217;aun mewakili tokoh utama yang jahat.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Perlambangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perlambangan atau simbolisme adalah salah satu unsur penting dalam karya sastra, terutama bila berbentuk cerita. Lambang-lambang sengaja dibuat atau dimunculkan sebagai sarana pengangkut makna-makna atau pesan-pesan tertentu. Dengan kata lain, di balik lambang-lambang itulah biasanya para pembuat cerita menyimpan &#8220;pesan-pesan&#8221; mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Lambang-lambang dalam sebuah kisah bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada kalanya berupa benda-benda atau kata-kata tertentu yang bermakna kiasan, sebagai bentuk-bentuk <em>tasybih</em> (ungkapan; perumpamaan) yang kadang mempertajam, menghaluskan, atau bahkan menyamarkan gagasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lambang-lambang itu biasanya hanya bisa terbaca oleh para pembaca yang cerdas dan terlatih. Dalam kajian sastra pembaca demikian itu biasa tampil sebagai kritikus atau pengamat sastra. Dalam konteks Al-Qur&#8217;an, yang tergolong demikian itu tentu (seharusnya!) adalah para ahli tafsir. Sayangnya, mereka yang dikenal sebagai ahli tafsir justru kebanyakan tidak peka terhadap simbolisme Al-qur&#8217;an, sehingga banyak pesan Al-Qur&#8217;an akhirnya tinggal lestari dalam pelukan kegelapan. Terkubur di lubang ketidaktahuan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.1. <em>Al-Muzzammil, lambang kebodohan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ditinjau dari teori perlambangan ini, <em>Al-Muzzammil</em> itu sendiri (seperti sudah disinggung di atas) adalah sebuah lambang, yaitu lambang dari seseorang dan atau satu umat (bangsa) yang terlena dalam kebodohan. Mereka hidup dalam berbagai bentuk kesulitan tapi tidak mau berontak, malah membenamkan diri dalam selimut. Hal itu mereka lakukan mungkin karena memang mereka tak tahu harus berbuat apa. Karena itulah Allah mengajarkan apa yang tak terjangkau oleh pemikiran mereka ( &#8216;<em>allamal insana ma lam ya&#8217;lam</em>; Al-&#8217;Alaq ayat 5), yaitu Al-Qur&#8217;an sebagai bekal untuk mengubah nasib.</p>
<p style="text-align:justify;">Coba perhatikan satu hal ini! Mengapa dalam surat ini Allah menyebutkan tokoh Musa? Satu segi, hal itu tentu dimaksudkan agar para pengikut Nabi Muhammad mengingat nasib bangsa Yahudi (Isra&#8217;il) ketika mereka masih menjadi budak di Mesir. Bila tidak karena Allah mengutus Nabi Musa dengan membawa kitab Taurat, niscaya mereka menjadi budak selama-lamanya!</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, mereka yang disebut sebagai <em>Al-Muzzammil</em> di masa Nabi Muhammad diingatkan untuk bercermin pada bangsa Yahudi ketika menjadi budak. Mereka ditolong Allah dengan mengutus seorang rasul yang membawa kita (Taurat)! Begitu juga bangsa Arab, dan kita semua yang mengaku umat Nabi Muhammad. Kita ditolong Allah dengan mengutus seorang rasul yang membawa kitab (Al-Qur&#8217;an). Tapi pertolongan Allah itu akan menjadi sia-sia jika kitab itu tidak dipelajari dan diamalkan sesuai dengan petunjukNya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6.2. <em>Belenggu dan makanan berduri</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 12-13 menyebut tentang &#8220;belenggu&#8221; (borgol) dan &#8220;makanan berduri (yang menyumbat kerongkongan)&#8221; yang disediakan Allah bagi para penguasa fasilitas kehidupan yang kafir. Kita selalu membayangkan bahwa itu semua adalah siksaan (azab) yang akan mereka terima di alam akhirat nanti. Padahal, bila kita ingat <em>sunnatullah</em> berupa hukum sebab-akibat yang disebutkan di atas, maka jelaslah bahwa setiap pilihan hidup pasti tidak bisa dilepaskan dari akibatnya. Dan pilihan untuk menjadi kafir adalah sama dengan membelenggu diri dengan segala akibat kekafiran itu. Dengan kata lain, bila mereka sadar, pilihan untuk menjadi kafir adalah ibarat memakan makanan berduri, yang begitu dimakan lantas mengganjal di tenggorokan, tak bisa ditelan dan tak bisa dikeluarkan. Dalam simbolisme bangsa Indonesia, buah berduri ini adalah &#8220;buah si malakama&#8221;, yang bila dimakan matilah ayah, dan bila tidak dimakan matilah bunda.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah gambaran penderitaan mereka. Gambaran kehidupan yang serba salah. Dengan kata lain, kekafiran itu menjebak manusia dalam keterlanjuran yang menyakitkan. Seperti orang yang terjebak dalam perjudian; berhenti salah (karena sudah kalah banyak dan ingin menebus kekalahan itu, melanjutkan juga salah (karena kemenangan yang diharapkan hanyalah spekulasi).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taurus16.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taurus16.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taurus16.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taurus16.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=9&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/13/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzammil%e2%80%9d-bagian-ketiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50b6f0693c472ee75a006110193943f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taurus16</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Gagasan Surat “Al-Muzzammil” (bagian kedua)</title>
		<link>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/11/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzamil%e2%80%9d-bagian-kedua/</link>
		<comments>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/11/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzamil%e2%80%9d-bagian-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 16:06:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taurus16</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taurus16.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[3.1. Tema besar surat Al-Muzzammil Tema besar surat Al-Muzzammil adalah keharusan bangun malam untuk mengkaji Al-Qur&#8217;an secara bertahap dan berdisiplin sebagai persiapan untuk memperbaiki kehidupan. Hal ini terungkap melalui ayat 1-4, dan dipertegas melalui ayat 20. Sedangkan tema kecilnya berderet &#8230; <a href="http://taurus16.wordpress.com/2008/05/11/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzamil%e2%80%9d-bagian-kedua/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=7&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>3.1. Tema besar surat Al-Muzzammil</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tema besar surat Al-Muzzammil adalah <em>keharusan bangun malam untuk mengkaji Al-Qur&#8217;an secara bertahap dan berdisiplin sebagai persiapan untuk memperbaiki kehidupan</em>. Hal ini terungkap melalui ayat 1-4, dan dipertegas melalui ayat 20.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan tema kecilnya berderet mulai ayat 1 sampai 20. Uraiannya sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.2. <em>Al-Muzzammil sebagai sebuah ungkapan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tema kecil pertama dalam surat ini tentu saja &#8220;Al-Muzzammil&#8221; itu sendiri, yang menjadi judul surat, tokoh utama, dan sekaligus merupakan <em>adatutasybih</em> (alat perumpamaan) bagi siapapun yang ingi menerobos kepungan -<em>azh-zhulumat</em> (&#8220;kebodohan&#8221; dengan segala bentuknya), untuk mendapatkan <em>an-nur</em>, yakni petunjuk Allah (Al-Qur&#8217;an). (Hubungkan antara lain dengan surat Al-Baqarah ayat 257)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sebuah perumpamaan, <em>al-muzzammil </em>(orang yang berselimut) adalah ungkapan yang jitu untuk menyebut siapapun yang terlena dalam kejahilan (<em> jahilliyah</em> ). Mereka ibarat orang-orang yang tidur dalam bungkusan selimut hangat, yang menambah tidur mereka semakin lelap, sehingga tidak menyadari apapun yang sedang terjadi dalam dirinya, lebih-lebih lagi dunia luar. Bila kita buka kamus, <em>an-naim</em> (  ) orang yang tidur, memang sama dengan <em>al-ghafil</em> (<span style="font-size:16pt;"> </span> )&#8211;hubungkan antara lain dengan surat Yasin ayat 6&#8211;orang yang lengah, lalai, dungu, bahkan bisa juga berarti mati (  ).</p>
<p style="text-align:justify;">Maka semakin jelaslah bagi kita bahwa Al-Qur&#8217;an diturunkan memang untuk membangkitkan si Muzzammil itu. Bila ada orang yang bersikukuh mengatakan bahwa surat Al-Muzzammil ini diturunkan khusus hanya kepada Nabi Muhammad, maka seharusnya mereka juga ingat bahwa Nabi Muhammad pun -sebelum menerima Al-Qur&#8217;an- adalah dalam keadaan sesat atau bingung. (Surat Adh-Dhuha ayat 7)<span id="more-7"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.3. <em>Al-Qur&#8217;an sebagai &#8216;qaulan tsaqilan&#8217;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Istilah <em>qaulan tsaqilan</em> (ayat 5) sering diartikan orang sebagai &#8220;perkataan yang berat&#8221;. Seoerang da&#8217;i terkenal, menafsirkannya dengan mengatakan bahwa dengan sering bangun malam untuk bertahajud, Allah akan menganugerahi kita &#8220;suara yang berat&#8221;, dalam arti berwibawa, sehingga setiap perkataan kita akan didengar (diperhatikan) orang! Sebuah tafsir yang tentu <em>ngawur</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Istilah <em>qaulan trsaqilan</em> di sini tentu berkaitan dengan isi Al-Qur&#8217;an secara keseluruhan. Tegasnya, <em>qaulan</em> (=<em>kalam</em>; firman) adalah sebutan lain bagi Al-Qur&#8217;an yang diajarkan dalam bentuk perkataan, dan <em>tsaqilan</em> adalah sifatnya, atau nilanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Harfiah <em>tsaqil</em> (<em>un</em> ) berarti &#8220;berat&#8221;, yaitu kebalikan dari <em>khaff</em> ( <em>un</em> ) yang berarti &#8220;ringan&#8221;. Bila bentuk katanya dilihat dari teori ilmu sharaf, <em>tsaqil</em> adalah <em>sifat musyabahah/mubalaghah</em> (berpola  ), yang penerjemahannya ke dalam bahasan Indonesia harus memakai tambahan <em>maha</em>, <em>amat</em> atau <em>sangat</em>, atau malah yang kedua belakangan digabung menjadi  <em>amat sangat</em>&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi harap diingat bahwa Al-Qur&#8217;an bukan sebuah benda padat. Ia adalah sebuah gagasan atau konsep, atau ilmu, yang sekarang &#8216;kebetulan&#8217; kita temukan tertulis dalam bentuk buku. Dengan demikian, yang disebut &#8220;amat berat&#8221; di sini tentu bukan bukunya, tapi nilai ilmunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jelasnya, <em>qaulan tsaqilan</em> adalah istilah yang digunakan Allah untuk menandai keistimewaan Al-Qur&#8217;an, yaitu sebagai sebuah konsep yang amat sangat berbobot, amat sangat bernilai ilmiah, bukan sebuah dongeng hampa makna.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.4. <em>Jalur malam dan siang</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 6 dan 7 menyiratkan semacam undang-undang yang membagi hari menjadi &#8216;dua jalur&#8217; yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Jalur malam</strong> untuk melakukan studi Al-Qur&#8217;an, dan</li>
<li><strong>Jalur siang</strong> untuk :</li>
</ol>
<p>a. mencari makan</p>
<p>b. menjaga kelangsungan studi</p>
<p>c. menghimpun dana bagi pengembangan da&#8217;wah</p>
<p>Kedua jalur itu adalah sarana untuk :</p>
<ol>
<li>mencapai <span style="text-decoration:underline;">tujuan antara</span> (=tujuan awal) yaitu terbentuknya &#8220;kesadaran berdasarkan ilmu Allah&#8221;, seperti diisyaratkan melalui ayat 8, dan</li>
<li>tercapainya tujuan akhir, yakni <em>istighfar</em> (yaitu revolusi atau perombakan kehidupan, dari kehidupan <em>zhulumat</em> menjadi kehidupan <em>nur</em> ), seperti tersirat dari ayat 20.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Bila pembagian jalur ini diabaikan, maka pengkajian dan pengamalan Al-Qur&#8217;an tidak akan sesuai dengan <em>sunnah</em> (pola; prosedur) rasul; sehingga hasilnyapun tentu tidak akan sesuai dengan hasil yang pernah dicapai Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.5. <em>Al-Qur&#8217;an sebagai wakil</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 9 berisi tema kecil tentang peran Allah sebagai <em>rabb</em> (pengendali) alam semesta, yang menganjurkankan agar manusia menjadikanNya sebagai satu-satunya <em>wakil</em> (andalan). Tentu yang harus dijadikan wakil di sini adalah ajaranNya (Al-Qur&#8217;an), bukan (hanya) diri Allah itu sendiri. Al-Qur&#8217;anlah yang harus diandalkan secara langsung dalam kehidupan nyata. Orang yang mengandalkan Allah tapi mengabaikan Al-Qur&#8217;an adalah sama dengan menghina Allah; yaitu seperti menganggap Allah sebagai pelayan. Dia meminta Allah melindunginya, meminta ini dan itu, tapi dia tak mau mematuhi peraturanNya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai andalan berarti memperlakukan Al-Qur&#8217;an sebagai &#8220;imam&#8221; alias pemandu kehidupan, yaitu menjadikannya petunjuk dan pedoman dalam segala macam kesibukan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.6. <em>Sabar sebagai soko guru</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 10 sampai 14 menegaskan perlunya menjadikan <em>shabr</em> (sabar) sebagai soko guru (tiang utama) dalam perjuangan menegakkan harapan (cita-cita). Sabar di sini, pertama, bisa berarti <em>luwes</em> dalam menghadapi tantangan dari lingkungan, ketika kita mencoba menerapkan konsep surat Al-Muzzammil ini (ayat 10). Kemudian, kedua, sabar juga berarti <em>tidak usil</em> atau gatal mulut maupun tangan terhdap para &#8216;penguasa&#8217; segala fasilitas kehidupan (ayat 11). Mengapa? Ayat 12-14 menegaskan bahwa mereka sebenarnya sedang melaju ke jurang kehancuran.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.7. <em>Al-Qur&#8217;an turun sebagai perulangan</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 15 menegaskan bahwa Al-Qur&#8217;an turun sebagai perulangan dari kitab-kitab terdahulu, dengan demikian Nabi Muhammad pun adalah seorang rasul dalam deretan rasul-rasul Allah, seperti halnya Musa (dan lain-lain), yang telah menghadapi musuh besar semacam Fir&#8217;aun; maka begitu juga -tentu- para pengikut Muhammad. Pendeknya, ayat ini menegaskan bahwa sejarah memang berulang, beredar membentuk suatu siklus (lingkaran) kehidupan, berdasar &#8216;skenario-skenario&#8217; tertentu. Allah, dengan ajaran yang disampaikan melalui rasulNya, pada dasarnya menawarkan suatu skenario (aturan main) untuk diperankan oleh manusia sebagai alternatif (pengganti) bagi skenario-skenario buatan mereka sendiri, yang tidak pernah mampu mewujudkan keadilan dan perbaikan hidup, bahkan sebaliknya segala yang mereka lakukan hanyalah ibarat orang-orang haus yang memburu <em>fatamorgana</em>. (Surat An-Nur ayat 39)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.8. <em>Mu&#8217;min harus &#8220;sadar sejarah&#8221;</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat 16-19 menekankan agar manusia (terutama mu&#8217;min) memiliki &#8220;kesadaran sejarah&#8221; khususnya yang berkenaan dengan keberuntungan dan kemalangan nasibnya sebagai reaksi positif atau negatif mereka atas wahyu Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesadaran sejarah dapat dipetakan secara ringkas sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Pertama</em>, manusia harus menyadari bahwa setiap peradaban berawal dari sebuah konsep, yang ditawarkan seseorang pada suatu masa, di suatu tempat. Selanjutnya konsep itu tumbuh menjadi sarana penghimpun segolongan manusia, dan bila mereka bisa tampil sebagai penguasa, maka konsep itu tumbuh menjadi sebuah sistem sosial, politik, dan ekonomi. Itulah yang selama ini biasa kita sebut sebagai kebudayaan (<em>culture</em>) dan atau peradaban (<em>civilization</em>). **</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua</em>, sebuah konsep (yang tumbuh menjadi kebudayaan/peradaban) bisa bertahan lama bila sanggup menghadapi segala tantangan. ***</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga</em>, para rasul diutus untuk menawarkan konsep Allah, dan rupanya mereka selalu berhasil menjadi pemenang.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Keempat</em>, para pengkaji Al-Qur&#8217;an seharusnya menyadari, bahwa Al-Qur&#8217;an adalah sebuah konsep yang unggul, dan mereka sendiri seharusnya menjadi tokok-tokok yang turut mengusung keunggulan Al-Qur&#8217;an itu. Jelasnya, mereka harus siap menjadi tatakan, pijakan, tangga, jembatan, atau apapun yang berperan memunculkan keunggulan Al-Qur&#8217;an. Ingat semboyan &#8220;<em>isy kariman aw mut syahidan</em>&#8220;. Hidup mulia bersama Al-Qur&#8217;an atau mati sebagai pembelanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3.9. <em>Mengkaji Al-Qur&#8217;an harus ikut prosedur</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat terakhir (20) menegaskan kembali perintah bangun malam untuk mengkaji Al-Qur&#8217;an, seperti yang tersebut pada ayat-ayat awal (1-4). Di sini semakin dipertegas bahwa waktu malam adalah sebuah prosedur yang tidak bisa ditawar, bila manusia benar-benar ingin menjadikan Al-Qur&#8217;an sebagai &#8220;andalan&#8221; untuk memperbaiki kehidupan. Ditegaskan pula bahwa pilihan waktu-waktunya adalah setengah, sepertiga, atau duapertiga malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Diingatkan pula di sini bahwa pengkajian Al-Qur&#8217;an itu dilakukan secara bersama-sama di bawah pimpinan Rasulullah. selain itu, rupanya kegiatan mengkaji Al-Qur&#8217;an itu tidakharus dilakukan oleh seluruh pengikut beliau, tapi hanya oleh satu <em>tha&#8217;ifah</em> (kelompok). Sementara bagian umat yang lainnya mendapat tugas khusus dan tidak kalah penting untuk masa depan da&#8217;wah, yaitu menekuni bidang ekonomi dan kemiliteran.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taurus16.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taurus16.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taurus16.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taurus16.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=7&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/11/mengungkap-gagasan-surat-%e2%80%9cal-muzzamil%e2%80%9d-bagian-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50b6f0693c472ee75a006110193943f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taurus16</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Gagasan Surat &#8220;Al-Muzzammil&#8221; (bagian pertama)</title>
		<link>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/09/mengungkap-gagasan-surat-al-muzzamil-bagian-pertama/</link>
		<comments>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/09/mengungkap-gagasan-surat-al-muzzamil-bagian-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 12:44:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>taurus16</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Al-Qur'an]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://taurus16.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[1. Al-Muzzammil sebuah kisah Al-Qur&#8217;an sebagai kitab bernilai sastra tinggi, sehingga sangat layak dikaji melalui teori sastra. Dalam tulisan ini kita menganggap surat Al-Muzzammil sebagai sebuah kisah, dengan catatan kisah dalam surat ini bukan sebuah kisah khayalan (fiksi), tapi kisah &#8230; <a href="http://taurus16.wordpress.com/2008/05/09/mengungkap-gagasan-surat-al-muzzamil-bagian-pertama/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=3&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Al-Muzzammil sebuah kisah</strong></p>
<p>Al-Qur&#8217;an sebagai kitab bernilai sastra tinggi, sehingga sangat layak dikaji melalui teori sastra.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan ini kita menganggap surat Al-Muzzammil sebagai sebuah kisah, dengan catatan kisah dalam surat ini bukan sebuah kisah khayalan (fiksi), tapi kisah yang mengungkap kebenaran sejarah masa lampau, yang mencakup masa Fir&#8217;aun dan Nabi Muhammad SAW.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, selain mengungkap kenyataan masa lampau, Al Muzzammil juga &#8216;menyerempet&#8217; kenyataan sekarang, dan membayangkan sesuatu yang bisa terjadi di masa yang akan datang, yaitu berupa gambaran keadaan yang baik (<em>ideal world</em>) bagi yang mengikuti petunjuk Allah, dan gambaran keadaan yang buruk (<em>worst-case scenario</em>) bagi yang menolaknya. Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa Al-Muzzammil menempati peran sangat penting (<em>central</em>), karena memuat penjelasan ringkas namun padat tentang kaitan antara kegiatan mengkaji Al-Qur&#8217;an dan &#8220;revolusi sosial budaya&#8221; yang bisa timbul sebagai dampaknya. Karena itu, surat ini layak disebut <strong>mewakili gagasan ini al-Qur&#8217;an</strong> itu sendiri, yang memang diturunkan untuk mengangkat manusia dari keterpurukan akibat kesalahan memilih ajaran (konsep) hidup.<span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.1  Gaya monolog</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyampaiannya dalam bentuk &#8216;kisah&#8217; dengan gaya monolog (bercerita seperti dalang) adalah bentuk seni sastra tersendiri (unik), yang belakangan ditiru banyak penulis novel maupun cerpen. Dalam gaya &#8216;berkisah&#8217; seperti ini, jarak antara penutur dengan pendengar dan atau pembaca jadi terasa begitu dekat, karena dijadikan lawan bicara, yaitu disapa dengan <em>anta</em> (anda; kamu) atau kadang <em>antum</em> (kalian). Uniknya, Sang Pencerita kadang menempatkan diri sebagai orang pertama (Aku, Kami) kadang sebagai orang ketiga (Dia).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan gaya bertutur seperti itu, terasa seolah-olah penutur ada di sisi lawan bicara, lalu mengajaknya berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya, melintasi jarak dan menerobos lapisan-lapisan waktu, menyaksikan berbagai peristiwa manusia dan alam semesta, sambil terus meluncurkan &#8216;obrolan&#8217; yang memperkaya wawasan, mengungkapkan rahasia dan menyentuh kesadaran. Di situlah kita menemukan makna hakiki dari sebutan Allah sebagai <em>rabb</em> (pembimbing).</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, berbagai kalimat (ayat) yang menyebut berbagai hal dengan lancar, lincah, dan dengan pilihan kata (diksi) yang jitu, segera menyadarkan kita betapa Sang Penutur ini memang Mahatahu dan Mahapandai pula beroleh seni sastra. Di sisi ini kita menangkap sebagian arti dari &#8216;julukan&#8217; Allah sebagai <em>latif(un) khabir(un)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1.2. Persamaan bunyi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kepiawaian Allah dalam seni sastra juga tampak jelas melalui persamaan bunyi (sajak) pada setiap akhir ayat Al-Qur&#8217;an, yang terus menerus (konsisten) muncul dengan wajar dan jitu, tak ada kesan dipaksakan. Ciri ini jelas memastikan gaya bahasa Al-Qur&#8217;an yang puitis. Ciri ini pula yang sempat menggoda kritikus sastra Indonesia, HB Yassin, untuk membuat terjemahan Al-Qur&#8217;an yang puitis. Sayangnya ia sama sekali tidak berhasil.<!--more--></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Unsur-unsur kisah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Para ahli sastra mengurai suatu kisah menjadi unsur-unsur (1) <em>tema</em>, (2) <em>alur</em>, (3) <em>tokoh</em>, (4) <em>lambang</em>, dan (5) <em>pesan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks pengkajian Al-Qur&#8217;an, bisakah kita menerima teori ini ? Jawabannya tentu sangat tergantung pada kenyataan apakah teori ini bisa membantu kita untuk memahami Al-Qur&#8217;an atau tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang pasti, walau hasil studi ini nanti mengundang perdebatan, &#8216;pembedahan&#8217; surat Al-Muzzammil dengan teori penguraian kisah itu telah dilakukan dan telah menghasilkan tulisan ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Tema</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tema (<em> theme </em>) adalah <strong>gagasan utama</strong> (<em> main idea</em> ) atau <strong>pokok bahasan</strong> ( <em>subject</em> ) dalam sebuah bukuk, puisi, film, dan sebagainya. (<em>Longman Language Activator, second impression, 1994</em> )</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah kisah biasanya mengandung dua jenis tema, yaitu <strong>tema besar</strong> yang merupakan gagasan utama atau ide dasarnya, dan <strong>tema-tema kecil</strong>, yang merupakan pendukung atau penguat bagi tema besar dan penegas keberadaan (eksistensi) para tokohnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tema besar adalah ibarat &#8216;gerobak&#8217; yang mengangkut sejumlah tema kecil; atau seperti &#8216;benang merah&#8217; yang merangkai tema-tema kecil itu menjadi sedemikian rupa. Dalam konteks (hubungan; kaitan) inilah kita memahami istilah &#8220;<em>lepas konteks</em>&#8221; yaitu terlepasnya satu atau beberapa tema kecil dari ikatan tema besarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di luar cakupan sebuah tema besar, tema-tema kecil memang bersifat seperti barang tak bertuan, bisa diambil oleh siapa saja. Dengan kata lain, tema-tema kecil bisa dimasukkan ke dalam satu atau banyak tema besar dalam saat yang bersamaan, seperti sejenis kancing yang bisa digunakan untuk berbagai bentuk pakaian. Karena itulah, dalam Al-Qur&#8217;an pun sering kali kita temukan kasus-kasus atau fragmen-fragmen (pecahan, penggalan kisah = tema-tema kecil) tentang Nabi Adam, misalnya, masuk kedalam tema besar dalam surat Al-Baqarah, Ali &#8216;Imran, Al-Ma&#8217;idah, Al-Isra&#8217;, Maryam, Thaha, dan Yasin. Di sini, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita memahami sebuah tema kecil dalam ikatan tema besarnya, sehingga bila kita mengutipnya, kutipan itu tidak menjadi &#8220;lepas konteks&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa salahnya kalau kita mengutip lepas konteks ? Perhatikan, misalnya, apa yang sering dilakukan orang pada surat Al-Baqarah ayat 256:</p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic;color:#000000;font-size:x-large;"><span style="text-decoration:underline;">لا إِكْرَاهَ فِي الدِّين</span>ِ </span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic;color:#000000;font-size:x-large;"> قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ </span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic;color:#000000;font-size:x-large;">يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ  بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ </span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-family:Traditional Arabic;color:#000000;font-size:x-large;">الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا  وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</span></p>
<p style="text-align:justify;">Bagian yang sering dikutip orang adalah kata-kata <em>la ikraha fi-ddin</em> (<em>i ), </em>yang mereka artikan &#8220;<em>tak ada paksaan dalam agama</em>&#8220;, dengan penjelasan (tafsir) bahwa manusia tidak dipaksa untuk memeluk agama Islam, dan karena itu orang Islam juga tidak boleh memaksa orang lain untuk masuk Islam. Padahal, bila diperhatikan konteksnya, ayat ini mengandung sindiran yang sangat tajam bagi siapapun yang mengabaikan kebenaran Dinul-Islam, yang di situ disebut <em>ar-rusydu</em> (luurus; benar), dan terus ngotot (kukuh) membela <em>al-ghayyu</em> (bengkok; salah), padahal perbedaan keduanya sudah dijelaskan segamblang-gamblangnya dalam ayat-ayat sebelumnya. (ingat nomor ayatnya: 256).</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang sama juga sering dilakukan pada sebuah hadits Al-Bukhari, yang hanya dipenggal sebagian yaitu tentang niat ( <em>al-a&#8217;malu bi-niyyati</em> ) dan dikaitkan dengan segala macam hal niat, sehingga kadang tidak &#8216;nyambung&#8217;. Padahal, hadits ini bicara tentang tiga motivasi hijrah (pada masa itu), yang bila tafsirnya diperluas maka hadits ini menegaskan klasifikasi kecenderungan manusia secara umum, yaitu untuk hidup berdasarkan ajaran Allah dengan pola RasulNya, atau hanya memburu dunia (materi), atau mengumbar nafsu birahi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Lebih jauh, bila dikaitkan dengan Yahudi, kebiasaan main kutip secara lepas konteks itu, secara lambat atau cepat, akan membuat kitab Allah berubah wujud menjadi timbunan kertas (kitab-kitab) yang berserakan&#8211;(Surat Al-An&#8217;am ayat 91)&#8211;yang fungsinya tidak lain kecuali menimbulkan kekacauan berpikir, sehingga lepas dari kendali nilai ilmiah, dan akhirnya kaburlah batas antara sunnah (jalan hidup) rasul dan sunnah setan!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/taurus16.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/taurus16.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/taurus16.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/taurus16.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=taurus16.wordpress.com&amp;blog=3666451&amp;post=3&amp;subd=taurus16&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://taurus16.wordpress.com/2008/05/09/mengungkap-gagasan-surat-al-muzzamil-bagian-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d50b6f0693c472ee75a006110193943f?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">taurus16</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
