3.1. Tema besar surat Al-Muzzammil
Tema besar surat Al-Muzzammil adalah keharusan bangun malam untuk mengkaji Al-Qur’an secara bertahap dan berdisiplin sebagai persiapan untuk memperbaiki kehidupan. Hal ini terungkap melalui ayat 1-4, dan dipertegas melalui ayat 20.
Sedangkan tema kecilnya berderet mulai ayat 1 sampai 20. Uraiannya sebagai berikut :
3.2. Al-Muzzammil sebagai sebuah ungkapan
Tema kecil pertama dalam surat ini tentu saja “Al-Muzzammil” itu sendiri, yang menjadi judul surat, tokoh utama, dan sekaligus merupakan adatutasybih (alat perumpamaan) bagi siapapun yang ingi menerobos kepungan -azh-zhulumat (“kebodohan” dengan segala bentuknya), untuk mendapatkan an-nur, yakni petunjuk Allah (Al-Qur’an). (Hubungkan antara lain dengan surat Al-Baqarah ayat 257)
Sebagai sebuah perumpamaan, al-muzzammil (orang yang berselimut) adalah ungkapan yang jitu untuk menyebut siapapun yang terlena dalam kejahilan ( jahilliyah ). Mereka ibarat orang-orang yang tidur dalam bungkusan selimut hangat, yang menambah tidur mereka semakin lelap, sehingga tidak menyadari apapun yang sedang terjadi dalam dirinya, lebih-lebih lagi dunia luar. Bila kita buka kamus, an-naim ( ) orang yang tidur, memang sama dengan al-ghafil ( )–hubungkan antara lain dengan surat Yasin ayat 6–orang yang lengah, lalai, dungu, bahkan bisa juga berarti mati ( ).
Maka semakin jelaslah bagi kita bahwa Al-Qur’an diturunkan memang untuk membangkitkan si Muzzammil itu. Bila ada orang yang bersikukuh mengatakan bahwa surat Al-Muzzammil ini diturunkan khusus hanya kepada Nabi Muhammad, maka seharusnya mereka juga ingat bahwa Nabi Muhammad pun -sebelum menerima Al-Qur’an- adalah dalam keadaan sesat atau bingung. (Surat Adh-Dhuha ayat 7) Lanjut membaca →